Etika Berziarah untuk Memasuki Masjid Nabawi

0
74
Etika Berziarah

Etika Berziarah adalah sebuah tata cara bagaimana cara melakukan ziarah yang baik sebagaimana yang di ajarkan Allah swt. Dengan mengetahui etika berziarah kita dapat lebih sempurna pada saat berziarah.

Berikut ini adalah Etika Berziarah ketika kita akan memasuki Masjid Nabawi dan ketika berziarah.

  1. Disunnahkan untuk datang ke Masjid Nabawi dengan tenang, sopan, memakai wewangian, berhias diri dengan pakaian yang indah, masuk dengan mendahulukan kaki kanan dan membaca doa.

“Hamba berlindung kepada Allah yang Maha agung, kepada wajahNya yang Mulia, dan kepada kekuasaanNya yang Maha dahulu, dari setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad beserta keluarga beliau. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba dan bukakanlah pintu rahmatMu untuk hamba.”

  1. Disunnahkan untuk langsung menuju Raudhah dan melakukan Shalat tahiatul masjid di sana dengan sopan dan khusyuk.
  2. Setelah shalat tahiatul masjid, kita dianjurkan untuk menuju makam Nabi, menghadap ke makam itu dan membelakangi Ka’bah, lalu mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad saw dengan mengucapkan,

“Salam sejahtera untukmu wahai Rasulullah, salam sejahtera untukmu wahai Nabiyullah, salam sejahtera untukmu wahai makhluk pilihan terbaik Allah, salam sejahtera wahai kekasih Allah, salam sejahtera untukmu wahai pemimpin para rasul, salam sejahtera untukmu wahai utusan Tuhan semesta alam, salam sejahtera untukmu wahai pemimpin umat yang bercahaya karena berwudhu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah. Aku bersaksi  bahwa engkau adalah hamba, utusan, kepercayaan, dan makhluk pilihanNya. Aku bersaksi engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati umat, dan berjihad untuk memperjuangkan (agama) Allah dengan sebenar-benarnya.”

  1. Setelah itu bergeser satu langkah ke kanan, lalu meng ucapkan salam kepada Abu Bakar ash-Siddiq. Kemudian, bergeser lagi satu langkah dan mengucapkan salam kepada Umar radialahu anhu.
  2. Menghadap kiblat, berdoa untuk diri sendiri, orang-orang yang dikasihi, saudara-saudara, dan semua umat Islam, kemudian pergi meninggalkan makam.
  3. Orang yang berziarah ke makam Nabi Muhammad sallalhu alaihi wasalam hendaknya tidak mengeraskan suaranya. Suara yang diucapkan cukup sekedar didengar oleh dirinya sendiri. 

Sebuah riwayat yang sahih menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab radiallahhu anhu melihat dua orang yang mengeraskan suaranya di Masjid Nabawi, lalu Umar berkata kepada keduanya, “Jika aku mengetahui kamu berasal dari dari pribumi, maka aku akan memukulmu dengan keras.”

  1. Tidak mengusap-usap kubur atau menciumnya karena hal itu telah dilarang Rasulullah sallalahu alaihi wasalam.

Abu Hurairah radiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah sallalahhu alaihi wasalam bersabda,

“Janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan, dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat perayaan. Hendaklah kalian membaca shalawat kepadaku karena shalawat kalian sampai kepadaku dimana pun kalian berada.”

Abdullah bin Hasan melihat seorang laki-laki yang sering mengunjungi makam Rasulallah saw. Untuk berdoa di sana, lalu ia berkata kepadanya, “ Wahai kamu, sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda,

‘Janganlah kalian mejadikan kuburanku sebagai tempat perayuan. Bacalah shalawat kepadaku dimana pun kalian berada shalawat kalian sampai kepadaku.’

Kamu dengan orang yang ada di Andalusia tidak ada bedanya.”

Semoga Informasi  ini dapat bermanfaat bagi si penulis dan khususnya untuk para pembacanya.

Semoga Informasi ini dapat bermanfaat bagi si penulis dan khususnya untuk para pembacanya.

Fiqqih sunnah, Sayyid Sabiq hal.183 – 186

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here