Hajar Aswad Beserta Beberapa Keutamaannya

0
31
Hajar Aswad

Hajar Aswad merupakan 8 bongkahan kecil akibat pecahnya batu yang semula besar. Kedelapan bongkahan itu masih tersusun rapi pada tempatnya seperti sekarang. Pecahnya batu itu terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syi’ah Al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al-Qaramathi yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Ihsa’ pada tahun 319 Hijriyah. Tetapi batu itu dikembalikan lagi pada tahun 339 Hijriah. Gugusan yang terbesar berukuran sebuah kurma yang tertanam di batu besar lain yang dikelilingi oleh ikatan perak inilah yang senantiasa dirindui setiap muslim untuk dapat menciumnya. Batu yang terletak dalam lingkaran perak itulah yang diusahakan jamaah haji untuk dapat menciumnya, bukan batu yang berada di sekitarnya.
Berikut beberapa keutamaan hajar aswad :

1. Berasal dari Batu Surga
Batu ini berasal dari surga dan dulunya batu tersebut berwarna putih dan terang benderang, namun karena sering disentuh oleh orang yang berdosa batu tersebut lama-kelamaan menjadi hitam legam seperti saat ini.
“Hajar Aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih dari susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam (HR. Tirmidzi no. 877, shahih menurut syaikh Al Albani).
“Ketika Hajar Aswad turun, keadaanya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam.” (HR Tirmidzi)

2. Menjadi Saksi di Hari Kiamat

Di hari kiamat nanti akan menjadi saksi atas orang yang mencium dan menyalaminya dengan ikhlas dan benar. Nabi Saw. bersabda, “Demi Allah, Dia akan membangkitkannya (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Dengan kedua matanya ia akan melihat dan dengan lidahnya ia akan memberikan kesaksiannya terhadap siapa saja yang pernah menyalaminya dengan kebenaran”. (HR Tirmidzi).

3. Disunahkan Mencium Hajar Aswad

Disunahkan mencium serta mengusapkan tangan pada batu hitam ini. Hal tersebut sesuai dengan kisah Sayyidina Umar radliyallahuanh, yang suatu saat mendatangi lalu menciumnya. Umar berkata:
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
Artinya: “Sungguh, aku tahu, kamu hanya batu. Tidak bisa memberi manfaat atau bahaya apa pun. Andai saja aku ini tak pernah sekalipun melihat Rasulullah shallahu alaihi  wa sallam menciummu, aku pun enggan menciummu.” (HR Bukhari)
Hadits di atas dapat kita pahami, Umar telah menyaksikan Rasul mencium Hajar Aswad dengan mata kepalanya sendiri, sehingga menjadikannya ingin meniru perilaku Nabi sebagaimana di atas.

Maka dari itu Abdullah bin Umar berkata, “Aku tidak pernah absen mencium Hajar Aswad dan rukun Yamani semenjak aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Hal yang sama juga dilakukan oleh Umar bin Khattab yang selalu mencium Hajar Aswad dan berkata, “Aku tahu kau hanyalah batu biasa yang tidak kuasa mendatangkan bahaya atau memberikan manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk si penulis dan khususnya untuk para pembacanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here