I’tikaf Beserta Syarat, Rukun dan Manfaatnya

0
105
I'tikaf

I’tikaf berasal dari bahasa Arab yaitu akafa yang memeiliki arti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Sedangkan dalam konteks ibadah dalam Islam adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk menggapai keridhaan Allah SWT dan bermuhasabah atas segala perbuatan-perbuatannya. I’tikaf sunnah dilakukan setiap waktu, tetapi yang paling utama (afdhal) ialah jika dilakukan pada saat bulan Ramadhan.

Syarat dan Rukun I’tikaf

  • Niat, dalam beri’tikaf harus ada niat sehingga orang yang melakukannya paham apa yang harus dilakukan, tidak melamun, dan pikiran tidak kosong.
  • Diam di dalam masjid dan meninggalkan segala perbuatan-perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang sedang beri’tikaf, sebagaimana firman Allah SWT
    “…Tetapi, jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS Al-Baqarah: 187).
  • Harus Beragama Islam (muslim), berakal, suci dari hadas besar (ada pendapat yang mengatakan bahwa hadas kecil juga membatalkan), dan harus di masjid.

Jika ingin melaksanakan i’tikaf, ada beberapa hal yang harus dipahami salah satunya ialah niat.

Berikut adalah lafal niatnya :

نَوَيْتُالْاِعْتِكَافَ لِلّٰهِ تَعَالٰى

Nawaitul I’tikaafa lilaahi ta’ala,

Artinya :
“Saya niat I’tikaf karena iman dan mengharap akan Allah, karena Allah ta’ala”.

Berikut adalah beberapa manfaat i`tikaf antaralain yaitu :

1. Akan terjaga dari perbuatan maksiatan
2. Akan dijauhkan dari neraka jahanam sejauh tiga parit. Menurut Al-Kandahlawi jarak satu
parit itu lebih jauh dari pada jarak antara langit dan bumi.
3. Akan dengan mudah dapat mendirikan shalat fardhu secara kontinu dan berjamaah.
4. Membantu menguatkan seseorang untuk menjalankan shalat dengan khusyuk.
5. Membantu orang melakukannya untuk menjalankan shalat atau amalan sunah.
6. Menjaga shaum seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa, walau kecil sekalipun.
7. Mendidik jiwa agar terbiasa berlaku sabar dalam menjalankan amal saleh.
8. Dapat mencegah keinginan untuk melakukan kemaksiatan, serta mendidik berlaku sabar
dalam menghadapi segala bentuk kemaksiatan.
9. Sebagai sarana untuk introspeksi diri, mengetahui sejauh mana kekuatan dan kelemahan
yang ada dalam diri seseorang.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk si penulis dan khususnya untuk para pembacanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here