Mahram Berdasarkan Sifat Waktu dan Konsekuensinya

0
102
Mahram

Mahram ialah berasal dari kata haram, yang memiliki arti haram atau tidak boleh dinikahi. Islam sangat membatasi seseorang , semua orang yang haram untuk dinikahi untuk selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam. Sedangkan Dalam bahasa arab, kata muhrim (muhrimun) itu memiliki arti orang yang berihram dalam ibadah haji sebelum bertahallul. Sedangkan kata  (mahramun) memiliki artiorang-orang yang merupakan lawan jenis kita, namun haram (tidak boleh) kita nikahi sementara atau selamanya.

3 Penyebab terjadinya mahram antaralain yaitu :

1. Karena Keturunan atau nasab (Al-Qarabah),

2. Karena mushaharah yaitu mahram yang terjadi karena hubungan pernikahan

3. Karena hubungan persusuan (radha’ah).

Sedangkan berdasarkan sifat dan waktunya terbagi atas 2 jenis antaralain yaitu :

1. Mahram Mu’abbad ialah  selamanya, dimana orang-orang yang masuk dalam kategori ini tidak boleh kita nikahi selama-lamanya, apapun yang terjadi. Misalnya, seorang wanita tidak boleh menikah dengan ayah kandungnya selama-lamanya. Sebab ayah kandung adalah  mu’abbad baginya.
Adapun penyebab terjadinya Mahram Mu’abbad ialah ada 3 yaitu :

  •  Karena keturunan
  •  Karena pernikahan
  •  Karena sepersusuan

2. Mahram Mu’akad ialah sementara atau temporari, dimana Orang-orang yang masuk dalam kategori ini tidak boleh ia nikahi dalam waktu sementara, karena adanya satu sebab yang melarang. Jika sebab tersebut sudah hilang, maka hilanglah pula kemahraman, yang akhirnya menjadikan keduanya boleh menikah.
Adapun penyebab terjadinya Mahram Mu’akad antaralain yaitu :

  1. Kakak atau adik ipar (saudara perempuan dari istri)
  2. Bibi (ayah atau ibu mertua) dari istri
  3. Istri yang telah bersuami dan istri orang kafir jika ia masuk Islam
  4. Wanita yang telah ditalak tiga, maka ia tidak boleh dinikahi oleh suaminya yang dulu sampai ia menjadi istri dari laki-laki lain
  5. Wanita musyrik sampai ia masuk Islam
  6. Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki ahli kitab atau laki-laki kafir
  7. Wanita pezina sampai ia bertaubat dan melakukan istibro’ (pembuktian kosongnya rahim)
  8. Wanita yang sedang ihrom sampai ia tahallul
  9. Wanita dijadikan istri kelima sedangkan masih memiliki istri yang keempat

Adapun konsekuensi hukum antara mahram mu’abbad dengan mu’aqqat adalah sebagai berikut:

  1. Seorang wanita / laki-laki tidak boleh menikah dengan laki-laki /wanita yang menjadi mahramnya, baik  mu’abbad maupun mu’aqqat.
  2. Seorang wanita /laki-laki juga boleh memperlihatkan sebagian auratnya pada mu’abbad, namun tidak pada mu’aqqat.
  3. Seorang wanita /laki-laki boleh berkhalwat dan bepergian berdua dengan salah satu dari mahram mu’abbad-nya, namun tidak demikian pada mu’aqqat-nya.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk si penulis dan khususnya untuk para pembacanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here