Masjid Biru Turki yang Memiliki Mihrab Marmer

0
52

Masjid Biru merupakan sebuah masjid di istanbul Turki dan merupakan Ibukota Kesultanan Utsmaniyah sejak tahun 1453 – 1923. Masjid ini dikenal dengan juga dengan sebutan nama Masjid Biru karena pada masa lalu interiornya berwarna biru.

Bangunan ini berada di Istanbul Turki yang dibangun oleh Sultan Ahmed I berasal dari Dinasti Ottoman yang menguasai Turki pada abad ke-14. Sultan Ahmed I memerintah Turki mulai tahun 1603 – 1617. Konstruksi masjid mulai dibangun pada tahun 1609, oleh arsitek terkenal pada jaman itu, yaitu Mehmed Aga. Pada tahun 1616, masjid ini selesai dibangun.

Masjid biru ini dibangun sekitar tahun 1609 dan 1616 atas perintah Sultan Ahmed I , yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Ia dimakamkan di halaman masjid. Masjid ini terletak di kawasan tertua di Istanbul, di mana sebelum 1453 merupakan pusat  konstantinopel, ibukota Kekaisaran bizantin /Bizantium. Berada di dekat situs kuno , serta berdekatan juga dengan apa yang dulunya bernama Gereja Kristen Kebijaksanaan Suci yang sekarang diubah fungsinya menjadi museum.

Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Biru karena warna cat interiornya didominasi warna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli masjid, maka cat tersebut dihilangkan. Sekarang, interior masjid ini tidak terlihat berwarna biru.

Jaraknya cukup dekat dengan istana topkapi, tempat kediaman para Sultan Utsmaniyah sampai tahun 1853 dan tidak jauh dari pantai bosporus. Dilihat dari laut, kubah dan menaranya mendominasi cakrawala kota Istanbul.

Arsitek Masjid Sultan Ahmed,  Sedefhar Mehmet Aqa , diberi mandat untuk tidak perlu berhemat biaya dalam penciptaan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini. Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter. Seperti halnya di semua masjid, masjid ini diarahkan sedemikian rupa sehingga orang yang melakukan shalat menghadap ke Mekkah, dengan mihrab berada di depan.

Elemen penting dalam masjid ini adalah memiliki  yang dipahat dengan hiasan stalaktit dan panel incritive double di atasnya. Tembok disekitarnya dipenuhi dengan keramik. Masjid ini didesain agar dalam kondisi yang paling penuh sekalipun, semua yang ada di masjid tetap dapat melihat dan mendengar Imam.

Semoga Informasi ini dapat bermanfaat bagi si penulis dan khususnya untuk para pembacanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here