Syarat Wajib Puasa dan Yang Mendapat Keringanan Untuk Tidak Puasa Menurut Ajaran Nabi

0
198
syarat wajib puasadan yang mendapat keringanan tidak puasa

Syarat wajib puasa menurut ajaran Nabi yang harus diketahui yaitu,
1. Sehat, tidak dalam keadaan sakit
2. Menetap, tidak dalam keadaan ber­ safar
Dalil kedua syarat ini adalah firman Allah,
“Dan barang siapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (dia wajib berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 185)

3. Suci dari haid dan nifas
Dari Mu’adzah; dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid meng-qadha ‘puasa dan tidak meng-qadha’ shalat?’ Aisyah menjawab, :Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘Aku menjawab, :Aku bukan Haruriyah; aku hanya bertanya. ‘Aisyah menjawab,
“Kami dulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk meng-qadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk meng-qadha’ shalat.”

Wanita haid dan nifas diharamkan berpuasa dan punya kewajiban meng-qadha’ ketika suci.

Yang Mendapatkan Keringanan Untuk Tidak Berpuasa

1. Orang yang sakit
Allah SWT berfirman,

“Danbarang siapa sakit atau berada dalampe1jalanan (lalu ia berbuka) maka (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”(QS.Al-Baqarah: 185)

2. Orang yang bersafar
Dalil seorang musafir boleh tidak berpuasa adalah firman Allah SWT, (yang artinya), “Dan barang siapa sakit atau berada dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Musafir punya pilihan boleh tidak puasa ataukah tetap berpuasa. 27 Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Jabir bin ‘Abdillah; mereka berkata, “Kami pernah bersafar bersama Rasulullah SAW, maka ada yang tetap berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Namun mereka tidak saling mencela satu dan lainnya.”

Namun manakah yang lebih utama bagi musafir, apakah berpuasa ataukah tidak? Jawabannya bisa dilihat menurut tiga kondisi, yaitu:

  1. Jika musafir merasa berat untuk berpuasa atau sulit mela­kukan hal-hal yang baik ketika itu, maka lebih utama untuk tidak berpuasa.
  2. Jika tidak memberatkan untuk berpuasa dan tidak menyu­ litkan untuk melakukan berbagai hal kebaikan, maka pada saat ini lebih utama untuk berpuasa. Alasannya karena lebih cepat terlepasnya beban kewajiban dan lebih mudah berpuasa dengan orang banyak daripada sendirian.
  3. Jika tetap berpuasa malah membahayakan kondisi diri, maka wajib  tidak puasa.

3. Orang yang sudah tua renta (sepuh)
Perincian ini selain berlaku bagi orang tua renta (sepuh) yang tidak mampu puasa, juga berlaku untuk orang yang sakit yang tidak bisa sembuh sakit lagi dari sakitnya (tidak bisa diharapkan sembuhnya).
Dalil dari hal ini adalah firman Allah SWT,
“Dan orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) wajib membayar ftdyah, (yaitu) memberi makan satu orang miskin.”(QS.Al-Baqarah: 184)

4. Wanita hamil dan menyusui
Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musa.ftr,juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata, “Lebih tepat wanita hamil dan menyusui dimisalkan seperti orang sakit dan musafir yang punya kewajiban qadha’ saja (tanpa fidyah). Adapun diamnya lbnu ‘Abbas tanpa menyebut qadha’ karena sudah dimaklumi bahwa qadha’ itu ada.” Kewajiban qadha’ saja merupakan pendapat Atha’ bin Abi Rabbah dan Imam Abu Hanifah.

Dengan demikian, wanita hamil dan menyusui terkena ayat (yang artinya), “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 185)

Referensi Dari:
Buku Ramadhan Bersama Nabi
Penulis, Muhammad Abduh Tuasikal
Halaman : 17-22

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here