Thawaf Ifadhah yang Menjadi Rukun Ibadah Haji

0
258
Thawaf Ifadhah

Thawaf ifadhah merupakan masuk dalam rukun haji atau dikenal juga dengan tawaf sadr (inti) maka jika tidak dikerjakan berakibat ibadah hajinya tidak sah atau batal. Sebagian jamaah haji melaksanakan tawaf ifadhah pada hari raya idul adha (yaum nahr). Dengan status hukum tawaf ifadah sebagai rukun haji dan sebagian besar melaksanakan pada saat bersamaan pada 10 Dzulhijjah, maka tingkat kepadatan Masjidil Haram meningkat tajam.

Thawaf ifadhah juga adalah termasuk di antara rukun haji yang mesti dilakukan. Jika tidak melakukan thawaf yang satu ini, maka hajinya tidak sah. Thawaf ini biasa disebut thawaf ziyaroh atau thawaf fardh. Dan biasa pula disebut thawaf rukn karena ia merupakan rukun haji. Setelah wukuf di ‘Arofah, mabit di Muzdalifah lalu ke Mina pada hari ‘ied, lalu melempar jumroh, lalu nahr (melakukan penyembelihan) dan menggunduli kepala, maka ia mendatangi Makkah, lalu thawaf keliling ka’bah untuk melaksanakan thawaf ifadhah sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya :

“Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29).

Thawaf ifadhah dapat dilakukan pada hari tasyrik, dan biasanya jamaah haji Indonesia memiliki demikian. Jika jemaah haji sudah melewati ibadah di masa puncak haji dari wukuf, mabit, sampai melontar jumrah, namun belum tawaf ifadhah, maka yang bersangkutan dapat dikatakan baru tahallul awal dan belum halal ‘berkumpul’ istri.

Thawaf ifadhah merupakan rukun yang tidak bisa tergantikan, jadi tidak bisa tidak, mesti dijalani. Cara melakukan thawaf ifadhah sama seperti melakukan sebagaimana thawaf lainnya, thawaf ifadhah dilakukan dengan tujuh kali putaran. Setiap putaran tersebut merupakan rukun menurut jumhur (mayoritas ulama). Wajib bagi yang mampu untuk berjalan melakukan thawaf, demikian pendapat jumhur, berbeda hanya dengan ulama Syafi’iyah yang menggap Sunnah.

Disunnahkan ketika melakukan thawaf ifadhah untuk melakukan roml (jalan cepat dengan memperpendek langkah) dan idh-thibaa’ yaitu membuka bagian pundak kanan. Ini berlaku bagi yang melakukan sa’I setelah itu . Jika tidak, maka tidaklah disunnahkan. Setelah melakukan thawaf diwajibkan melakukan shalat dua raka’at menurut jumhur, sedangkan menurut Syafi’iyah dianggap sunnah.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk si penulis dan khususnya untuk para pembacanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here